Wedhon

Camar4D | Togel Online | Slot Online - Kali ini kita Membahas Wedhon sejenis makhluk halus yang bisa menyamar sebagai binatang apa saja, Serem bangett!!


Ceritacamar4D - Malam ini, mBah Mo dapat giliran lep ( mengairi sawah). Saat musim kemarau, untuk lep memang digilir, untuk mencegah rebutan air antar para petani.

Musim kemarau memang susah untuk mendapatkan air. Air yang mengalir di kalen (saluran irigasi) sangat kecil, bahkan terkadang tidak ada sama sekali. Tak heran kalau terkadang ada yang cekcok perang mulut, bahkan ada yang sampai baku hantam hanya gara gara rebutan air untuk mengairi sawah. Karena itulah akhirnya kegiatan lep ini digilir.

Jam 2 malam, mBah Mo sudah berada di dam (bendungan) kali Bagor. Dari dam inilah air dialirkan melalui kalen, untuk kemudian dialirkan ke sawah sawah warga.

Kegiatan lep ini memang sering dilakukan saat malam hari. Karena saat malam persediaan air sedikit lebih banyak, karena tidak berkurang karena menguap terkena sinar matahari. Selain itu, sawah milik warga juga rata rata lumayan luas. Jadi kalau tidak dimulai dari malam hari, ditakutkan sampai seharian tidak semua petak sawah bisa medapatkan air.

Dengan teliti mBah Mo menyusuri kalen, membersihkan sampah dedaunan dan rerumputan yang menghambat aliran air, menutup saluran yang mengalirkan air ke sawah orang yang tidak mendapat jatah lep, Juga memeriksa setiap jengkal pematang kalen, menyumbat lubang lubang sarang yuyu (kepiting sawah) dengan tanah liat. Lubang lubang ini membuat air bocor dan mengalir ke sawah orang.

Juga lubang lubang "siluman" yang sengaja dibuat orang untuk mencuri air dan dialirkan ke sawah mereka. Memang, meski jatah lep sudah digilir, tapi masih ada saja yang curang dengan membuat lubang lubang rahasia untuk mencuri air. Biasanya lubang lubang ini dibuat tersembunyi diantara rerumputan. Jadi mBah Mo harus ekstra teliti.

Kalen itu cukup panjang, sekitar hampir 2 kilometer, membujur dari utara ke selatan melewati sawah sawah penduduk di sebelah timur desa, lalu sedikit menyerong ke arah barat sampai berakhir di kali kecil yang ada di Tegal Salahan, di selatan desa.


BACA JUGA : Ronda Malam Dan Macan Ngegendong Mayat


Sesekali mBah Mo beristirahat, duduk di pematang kalen untuk sekedar melinting rokok tingwe dan mengendurkan otot otot kakinya yang pegal. Usia yang tak lagi muda membuat tenaganya juga tak sekuat dulu.

Habis rokok tingwe sebatang, mBah Mo kembali melanjutkan aktivitasnya. Membersihkan kalen dari sampah dan rerumputan.

"Djanc*k, nemu gedhang goreng" (sial, nemu pisang goreng) umpat mBah Mo sambil menutup hidung, saat meraup sejumput rumput di tengah kalen dengan tangan. Bersama rumput itu ikut pula sebuah benda beraroma tak sedap tergenggam oleh mBah Mo.

Segera dilemparnya rumput dan benda itu ke pematang kalen, lalu mencium tangan yang tadi dipakai untuk mngambil rumput. "mambu ta*" (bau kotoran manusia) kakek tua itu mengernyitkan hidung lalu mencuci tangannya.

Sudah hal yang wajar di desa itu orang buang hajat di kali atau kalen, karena memang masih jarang orang yang punya kakus. Meski tak urung hal itu sering membuat jengkel orang yang sedang lep.

Kembali mBah Mo melanjutkan pekerjaannya. Sorot senternya menerangi langkah kaki tuanya, menyusuri pematang kalen.

Tiba tiba langkah mBah Mo terhenti, lalu mematikan senternya. Di sana, di arah depan, beberapa meter dari tempat mBah Mo berdiri, nampak sesosok bayangan hitam duduk berjongkok di atas wot (titian bambu yang dibuat melintang di atas kalen, biasa dipakai untuk menyeberangi kalen.

"kecandhak kowe saiki" (tertangkap kamu sekarang) gumam mBah Mo sambil memungut sebongkah tanah dan mengendap endap mendekati sosok tersebut.


BACA JUGA : Kemamang dan Perempuan Gantung Diri



"Bruk.....," setelah dekat mBah Mo melempar tepat ke arah sosok bayangan hitam itu.

"Djanc*k! Sopo he....., "(sialan, siapa he....,) teriak sosok bayangan itu, yang ternyata adalah orang yang sedang buang hajat.

" Brug..... Brug...., Hihihihihihihi..........!!!!!!!" kembali mBah Mo melempari orang itu sambil tertawa mengikik menirukan suara tawa kuntilanak.

"Wuaaasssssuuuuu.........!!!!! Dhemit edan......!!!!!!" sontak sosok itu lari tunggang langgang tanpa sempat menaikkan celananya lagi.

"Hehehe....., rasakno kowe, wong ngising kok sembarangan" (rasain kamu, buang air kok sembarangan.) mBah Mo terkekeh menahan tawa, lalu melanjutkan lagi pekerjaannya.

Belum lama mBah Mo berjalan, langkahnya kembali terhenti. Senternya disorotan ke rerumputan di depannya. Seekor ular sebesar lengan dengan tubuh belang hitam kuning merayap menyeberangi pematang kalen.

"Wah, enek oyot liwat, untung ra kepidak," (wah, ada akar lewat, untung nggak terinjak) gumam mBah Mo lagi, membiarkan ular itu lewat menyeberangi pematang dan menghilang di semak semak.

Kembali mBah Mo melangkah. Sedikit lagi sampai di sawah miliknya. Tiba tiba.....

"Meooonnnggg....... Meoooonnnnngggg....." seekor anak kucing nampak bersusah payah mencoba memanjat naik ke atas pematang kalen, bulunya yang kelabu nampak basah, dan tubuhnya menggigil kedinginan.

"Wah, mesakne men (kasihan sekali) cemeng ki, puuuusssss...., puuuussss...., ckckckck......" mBah Mo mengambil anak kucing itu dan menggendongnya. Ia berniat untuk membawanya pulang. Kebetulan sudah lama cucunya ingin memelihara kucing.

Akhirnya sampailah mBah Mo di sawah miliknya. Ia tersenyum puas sambil menyorotkan senternya ke setiap penjuru sawah. Beberapa petak sudah tergenangi air. Dari kalen air mengalir deras masuk ke sawahnya.

Hari hampir pagi. Mbah Mo berniat untuk pulang sebentar, sekedar untuk menikmati secangkir teh hangat di rumah, sebelum nanti kembali melanjutkan pekerjaannya.


BACA JUGA : DEDEMIT RANU KUMBOLO


Sambil menggendong anak kucing yang tadi ia temukan, mBah Mo berjalan pelan menuju ke arah desa.

"Penak'eeeee, adhem adhem dikeloni," (enaknyaaaaa, dingin dingin dikelonin)" sebuah suara menghentikan langkah mBah Mo. Kakek tua itu celingak celinguk mencari sumber suara. Namun ia tak menemukan apapun.

"Penak'eeeee....., adhem adhem dikeloni," kembali suara itu terdengar, sangat jelas dan begitu dekat. Kembali mBah Mo celingak celinguk, namun ia tak menemukan apa apa.

"Penak'eeeee....., adhem adhem dikeloni," Deg! Mbah Mo sadar, ada yang tidak beres, seiring dengan ia menyadari bahwa anak kucing yang digendongnya terasa sedikit lebih berat.

Mbah Mo melirik anak kucing di gendhongannya. Benar saja, anak kucing yang tadi kecil, imut, dan lucu, telah berubah menjadi sedikit besar, sebesar induk kucing.

"Penak'eeee....., adhem adhem dikeloni,", suara itu berasal dari kucing yang digendhongnya. Sontak mBah Mo membuang kucing dalam gendhongannya, yang terus membesar menjadi sebesar anjing, lalu membesar lagi sampai sebesar kambing, lalu sebesar sapi, sebesar kerbau, sebesar gajah, sebesar dinosaurus, dan terus membesar, membesar, dan membesar.

"Djanc*k.....!!!!! As*****......!!!!!!, Jaran......!!!!!!, tak kira kucing, jebul(ternyata) Wedhon.....!!!!!!" mBah Mo lari tunggang langgang meninggalkan makhluk besar yang terus membesar, membesar, dan membesar.

"Hihihihihi.........," tawa makhluk itu menggema, sebelum akhirnya sosok yang telah berubah mengerikan itu lenyap begitu saja tanpa meninggalkan bekas.


BACA JUGA LAINNYA : 

Posting Komentar

0 Komentar