Camar4D | Togel Online | Slot Online - Kali ini kita Membahas Cerita horor Wewe Gombel , bagaimana cerita nya yuk mari kita simak.
![]() |
| Wewe Gombel |
Ceritacamar4D - Namanya Samijan. Dia ini teman ane. Teman sekolah, juga teman di rumah. Rumah kami juga bersebelahan. Jadi kemana mana ane sama Samijan ini selalu bersama sama. Main bersama, nyari kayu bakar bersama, nyari rumput bersama, menggembala kambing juga bersama. Pokoknya dah kaya dua sejoli gitu lah.
Namun ada suatu saat dimana hubungan kami menjadi agak renggang. Yach, namanya juga anak anak, kadang hanya karena masalah yang sepele, yang awalnya teman baik bisa jadi bermusuhan dan saling membenci.
Samijan ini sebenarnya anak yang baik dan rajin, meski sifatnya kadang agak sedikit usil dan tengil. Dia tinggal bersama emak dan bapak tirinya. Dia juga punya adik tiri perempuan, Yuni namanya.
Bapak tiri Samijan ini galak banget gansist. Terutama kepada Samijan. Salah dikit saja, bisa kena omelan sepanjang hari dia. Beliau juga kayaknya nggak suka banget sama yang namanya anak anak. Jika ada anak yang main di dekat rumahnya gitu suka diomelin dan di usir usir. Berisik katanya, ganggu orang tidur, dan lain sebagainya.
Karena rumah ane dan Samijan ini bersebelahan, jadi hampir setiap hari ane bisa mendengar kalau bapaknya Samijan ini marah marah. Seperti siang itu, hanya karena terlambat pulang sekolah Samijan kena marah habis habisan. Dikira Samijan ini pulang sekolah nggak langsung pulang, tapi main dulu gitu.
BACA JUGA : Wedhon
Tapi Samijan ini udah kebal dengan omelan omelan bapak tirinya. Mungkin karena sangking seringnya diomelin, jadi udah terbiasa gitu. Mau diomelin kaya apa juga dia cuek saja, masuk kuping kiri keluar kuping kanan.
Seperti siang itu, sambil menikmati merdunya omelan sang bapak, Samijan asyik melahap makan siangnya di emperan rumah. Duduk di atas lincak, tangan kiri menyangga piring, tangan kanan menyuap nasi ke mulut, dan kaki diangkat sebelah. Ane yang melihat dari teras rumah ane tersenyum geli. Ga kebayang gimana jengkelnya tuh bapak Samijan. Dia udah ngomel panjang lebar, eh yang diomelin gayanya kaya gitu.
Selesai makan tuh ane lihat Samijan lewat depan rumah ane, bawa golok dan tali dari bambu. Pasti mau cari kayu bakar. Biasanya dia selalu mengajak ane, tapi kerena kita lagi marahan, jadi dia berangkat sendiri. Bahkan saat lewat depan rumah ane dan lihat ane duduk di lincak teras pun dia cuek saja. Jangankan menyapa, melirikpun juga enggak.
Ane sedikit keki juga sama sikapnya itu. Tapi bodo amat lah, ane juga ga peduli. Ane yang waktu itu juga berniat untuk mencari kayu bakar kemudian berangkat lewat jalan yang berbeda dengan jalan yang dilalui Samijan. Ane lewat area persawahan di selatan desa, sedang Samijan lewat jalan desa, jalan yang menuju area Tegal Salahan.
Ya, kita punya lokasi favorit untuk mencari kayu bakar. Letaknya di area Tegal Salahan, tepatnya di ladang mBah Joyo. Berbeda dengan ladang ladang milik petani lain yang biasa ditanami palawija, ladang mBah Joyo ini justru ditanami pohon sengon.
BACA JUGA : Ronda Malam Dan Macan Ngegendong Mayat
Ladang mBah Joyo ini lumayan luas gansist, letaknya di sebelah barat jalan Salahan, kira kira seratus meteran gitu jaraknya dari jalan. Tanaman pohon sengonnya banyak banget, sampe hampir mirip hutan kecil gitu.
Nah, di ladang itulah biasa kami mencari kayu bakar. Banyak ranting ranting pohon sengon yang kering dan jatuh ke tanah. Jadi kita tinggal memungutinya, tak perlu susah payah memanjat untuk mendapatkan kayu bakar. Mbah Joyo juga nggak pernah melarang orang untuk mencari kayu bakar di ladangnya, selama tidak mengganggu dan merusak tanaman sengonnya.
Sial buat ane, saat ane sampai di jalan Salahan, ane lihat Samijan udah berada di ladang mBah Joyo. Mau ga mau ane harus mencari kayu bakar di tempat lain. Ga enak juga kalau ane ikut cari kayu bakar disana, karena kita emang lagi musuhan. Akhirnya ane terus saja berjalan ke arah selatan, ke ladang Kang Bejo.
Singkat cerita, sampai sore hari ane udah ngumpulin seikat besar kayu bakar di ladang Kang Bejo. Setelah istirahat sebentar anepun memutuskan untuk pulang.
Saat melewat bok yang ada di jalan Salahan ane lihat Samijan masih ada di situ. Asyik membungkuk bungkuk di tengah kali kecil di sebelah barat bok. Di dekatnya, di pematang pinggir kali ada seikat besar kayu bakar. Sepertinya ia sedang menangkap ikan.
Di kali itu memang terkenal banyak ikannya. Ane juga sering tuh iseng nyari ikan di situ. Kalinya kecil dan tak begitu dalam. Jadi sangat mudah untuk menangkap ikan disitu.
Sebenarnya ane juga prngen ikut nyari ikan dulu, mengingat hari belum terlalu sore. Kan lumayan tuh kalau dapat ikan, bisa buat lauk makan malam. Tapi lagi lagi karena ane dan Samijan ini lagi musuhan, ane urungkan niat ane.
BACA JUGA : Kemamang dan Perempuan Gantung Diri
Akhirnya ane lewat gitu aja, meneruskan perjalanan pulang. Beberapa kali ane sempet melirik ke arah Samijan. Ane yakin anak itu juga melihat ane, tapi ya gitu, kita diem dieman aja, tanpa bertegur sapa seperti biasanya.
Sampai di rumah sudah hampir maghrib. Anepun segera mandi dan berganti pakaian, lalu bersiap siap untuk ke mushala. Ya, ane punya kegiatan belajar mengaji di mushala selepas maghrib bersama anak anak yang lain.
Tengah asyik asyiknya kami belajar, tiba tiba datang Lik Sumi, emaknya si Samijan, menemui Pak Modin yang menjadi guru mengaji kami. Lik Sumi kelihatan panik dan cemas. Ia bilang ke Pak Modin bahwa Samijan hilang. Tadi siang pamit mau cari kayu bakar dan sampai saat ini belum pulang. Sudah dicari kemana mana tapi tidak ketemu.
Lik Sumi khawatir kalau Samijan minggat, karena sebelum pergi mencari kayu bakar sempat diomelin bapaknya. Ane yang tadi sore melihat Samijan di kali Salahan pun kemudian menceritakannya kepada Lik Sumi dan Pak Modin.
Mendengar cerita ane Lik Sumi jadi semakin panik. Ia takut anaknya kenapa kenapa, mengingat kali Salahan yang terkenal angker itu. Ada pantangan bagi penduduk desa bahwa saat waktu maghrib nggak boleh berkeliaran di area Tegal Salahan itu.
Akhirnya Pak Modin menyuruh Lik Sumi untuk pulang, dan berjanji akan mengajak bapak bapak warga desa untuk membantu mencari Samijan setelah sholat isya' nanti.
Lik Sumi pun pulang. Dan selesai sholat isya' Pak Modin segera berdiskusi dengan bapak bapak jemaah sholat, menceritakan kejadian yang menimpa Samijan. Bapak bapak yang hadir di situ sebagian yakin kalau Samijan hilang digondhol wewe gombel penghuni kali tersebut. Memang sudah beberapa kali terjadi ada anak hilang diculik wewe gombel di tempat itu.
Akhirnya diputuskan untuk mencari Samijan di area Tegal Salahan. Ane dan teman teman yang kepo pun tak ingin ketinggalan. Meski sudah dilarang oleh Pak Modin, tapi tetap saja kami membuntuti rombongan bapak bapak itu.
BACA JUGA : DEDEMIT RANU KUMBOLO
Dengan membawa senter, tampah, dan cangkul mereka berombongan menuju kali Salahan. Ya, di desa kami untuk mencari anak yang hilang diculik wewe gombel memang harus menggunakan tampah dan cangkul. Jadi alat alat ini di tabuh seperti alat musik gitu, sambil mengucapkan mantra. Mantranya sedikit lucu sih menurut ane.
Jadi begini, tampah dan cangkul ditabuh, kira kira suaranya begini, "blug......., blug....., thing, blug....., blug...., thing," gitu, sambil mengucapkan mantra begini, "mbok wewe....., mbok wewe......, balekno (kembalikan) si jabang bocahe Samijan" gitu gansist. Mengucapkannya berlagu seperti orang menyanyi gitu gansist, sambil diiringi terebuhan tampah dan cangkul.
Sampai tengah malam, Samijan belum juga ditemukan. Namun para pencari tidak menyerah. Mereka terus menyusuri kali, bahkan sampai mengelilingi seluruh area Tegal Salahan, sambil terus menabuh tampah dan cangkul.
Berhubung sudah larut malam, kami anak anak yang bandel dan nekad ikut mencari dipaksa untuk pulang oleh Pak Modin. Sebenarnya kami masih penasaran, tapi karena udah malam dan mengantuk, kamipun pasrah diantar pulang oleh salah seorang bapak rombongan pencari itu.
Esok paginya ane dapat kabar kalau Samijan ditemukan pas menjelang subuh, sedang pulas tertidur dibawah rumpun bambu di sudut ladang mBah Joyo. Padahal rombongan pencari itu sudah berkali kali melewati rumpun bambu itu, tapi tak ada satupun yang melihat keberadaan Samijan. Sampai menjelang shubuh Pak Modin yang melihat Samijan tergeletak di bawah rumpun bambu. Hanya kepalanya terlihat, karena seluruh tubuhnya tertutup oleh onggokan daun bambu kering. Jadi seolah olah Samijan ini tidur berselimut daun daun bambu kering gitu gan.
BACA JUGA : Makam Joko Sambang dan Kisah paling tua
Anehnya lagi, Samijan sejak saat itu berubah jadi kaya orang ling lung gitu gansist. Tatapan matanya kosong. Dia juga menjadi bisu, nggak bisa ngomong sama sekali. Diajak ngomong juga nggak ada respon. Cuma kadang suka senyum senyum sendiri gitu.
Sampai berbulan bulan keadaan Samijan tetap seperti itu. Sudah dibawa berobat kemana mana tapi tak ada perubahan. Sampai akhirnya Samijan diungsikan ke rumah kerabat emaknya di kota. Katanya di kota ada tempat pengobatan yang lebih baik.
Tapi sampai sekarang kabarnya Samijan masih tetap seperti itu gansist, ga ada perubahan sama sekali. Beruntung kerabat emaknya yang di kota itu baik banget. Ia menampung dan merawat Samijan sampai sekarang. Memang kerabat emak Samijan ini lumayan kaya gitu gansist, jadi kalau cuma menampung dan merawat satu orang saja nggak jadi masalah. Bahkan kabarnya beliau ini juga membayar orang untuk khusus merawat dan menjaga Samijan. Ya semacam baby sister gitu lah kalau zaman sekarang.
Jadi gansist, jangan pernah sekali kali keluyuran ke Tegal Salahan seorang diri, apalagi pas waktu mau maghrib, kalau tidak ingin bernasib seperti Samijan.
BACA JUGA LAINNYA :



0 Komentar